Sunday, November 8, 2009

Bahan Kuliah S2 Psikologi UGM, 9 Nov 2009

Pilihan Analisis Kualitataif dalam Psikologi

ANALISIS WAWANCARA
 Analisis dilakukan pada hasil wawancara (transkrip/verbatim).
 Jika menekankan pada kebenaran isi disebut analisis konten atau analisis wacana positivisme.
 Jika menekankan pada proses produksi pesan dan proses penafsiran bahasa disebut analisis wacana konstruktivisme.

ANALISIS WACANA
 Wacana dalam psikologi sosial diartikan sebagai “pembicaraan”
 Analisis wacana positivisme-empiris: memusatkan pada kebenaran struktur tata bahasa. Ada pemisahan yang jelas antara subjek dan objek sehingga analisis ini menekankan objektivitas. Sifat analisisnya naratif (menceritakan).
 Analisis wacana konstruktivisme: memusatkan pada proses penafsiran bahasa. Sifat analisisnya eksplanatif (menjelaskan).
 Analisis wacana kritis: menekankan pada konstelasi kekuatan yang terjadi pada proses produksi dan reproduksi makna. Sifat analisisnya deskriptif (menggambarkan).

ANALISIS INTERPRETIF FENOMENOLOGI
 Analisis ini memusatkan perhatian pada makna dari sebuah pengalaman, kejadian, dan pernyataan-pernyataan subjek (orang yang diteliti)
 Interpretasi atas makna dibangun berdasarkan intuisi.
 Tidak ada pemisahan antara peneliti dan yang diteliti sehingga tafsir yang dihasilkan sangat subyektif..
 Sifat analisisnya reflektif di mana subjektivitas kita diletakkan pada subjektivitas orang lain.

Bahan bacaan:
Jonathan A. Smith (Ed.), 2006. Qualitatif Psychology: A Practical Guide to Research Methods. SAGE Publications. Ltd. London.

Tuesday, October 13, 2009

Rancangan Dasar Penelitian Kualitatif

• Berbeda dengan penelitian kuantitatif, penelitian kualitatif tidak memiliki struktur dan langkah-langkah kegiatan penelitian yang baku. Setiap peneliti memiliki cara-cara relatif bebas untuk mengumpulkan dan menganalisa data.
• Menurut pendekatan yang dianjurkan oleh Taylor dan Bogdan (1984), sama dengan yang dianjurkan oleh Glaser dan Strauss (1967), penelitian kualitatif dilakukan untuk mengembangkan suatu pemahaman yang mendalam tentang masyarakat atau manusia yang sedang dijadikan pokok kajian, termasuk setting-nya.
• Berbeda dengan Glaser dan Strauss, pendekatan Taylor dan Bogdan tidak terlalu menaruh perhatian pada pengembangan konsep dan teori daripada pemahaman tentang “settings” dan/atau masyarakat menurut pehamahan dan perspektif mereka.
• Meskipun penelitian kualitatif tidak memiliki strukur dan mekanisme kerja yang baku, ia memiliki fase-fase yang dapat dengan jelas dibedakan satu dari yang lain.
• Fase pertama disebut sebagai fase identifikasi tema dan pengembangan konsep-konsep. Peneliti secara perlahan-lahan membangun pemahaman tentang apa yang ia teliti dengan cara mengkombinasikan insight (wawasan/pengetahuan) dan intuisi dengan keakraban peneliti yang intim dengan data.

Berdasarkan pengalaman saya dalam merancang dan melakukan penelitian kualitatif, secara garis besar, langkah-langkah merancang penelitian kualitatif adalah sebagai berikut.

Langkah-langkah

1. Merumuskan asumsi dasar
Asumsi adalah jawaban sementara atas apa yang dipertanyakan. Setelah kita menemukan ide yang menarik untuk diteliti, tentu di kepala kita sudah ada gabaran jawabannya, meski masih remang-remang. Rumusan asumsi dasar ini, dalam proposal, menjadi bahan untuk menulis latar belakang dan rumusan masalah (pertanyaan penelitian).

2. Memilih teori yang tepat untuk menjawab pertanyaan penelitian
Teori dapat diartikan sebagai suatu pernyataan, pendapat atau pandangan tentang: hakekat suatu kenyataan atau suatu fakta; hubungan antara kenyataan atau fakta dengan kenyataan atau fakta yang lain; atau hubungan antara konsep dengan konsep. Teori dibedakan menjadi teori besar, menengah, dan kecil.
Teori-teori besar adalah teori-teori yang dianggap dapat menjelaskan gejala-gejala sosial budaya tertentu di semua masyarakat atau kebudayaan, sehingga teori-teori semacam ini bersifat abstrak. Teori-teori besar dalam bidang sosial humaniora umumnya merupakan teori-teori mengenai hakikat sari suatu kenyataan atau gejala sosial budaya tertentu.
Teori-teori menengah dianggap dapat menjelaskan gejala-gejala sosial budaya pada sejumlah masyarakat yang relatif sejenis. Teori menengah menjadi jembatan antara yang empiris dengan teori-teori yang lebih besar. Jadi, teori-teori ini lebih kecil cakupannya dari teori-teori besar, namun terasa lebih konkrit.
Teori-teori kecil lebih kecil lagi cakupannya, namun juga paling jelas keterkaitannya dengan realitas empiris. Dalam penelitian-penelitian ilmu sosial humaniora, teori-teori kecil merupakan jenis teori yang paling banyak dihasilkan karena setiap penelitian yang dilakukan dengan baik—dalam arti menggunakan konsep yang jelas serta metode dan analisis yang tepat—pasti akan menghasilkan suatu kesimpulan tertentu mengenai suatu kenyataan empiris.
Psikologi, sebagai ilmu tentang perilaku dan proses mental, setidaknya memiliki empat perspektif teori yang sudah dan sedang berkembang, yaitu: (1) Psikodinamika, bahwa perilaku manusia itu dipengaruhi masa kecilnya; (2) Behavioristik, bahwa perilaku merupakan hasil dari proses belajar. Dalam perspektif ini perilaku dianggap dipengaruhi oleh hadiah dan hukuman dari lingkungan sekitarnya; (3) Pendekatan kognitif, bahwa perilaku sangat dipengaruhi oleh cara pandang; (4) Transpersonal, bahwa perilaku selain dipengaruhi oleh aspek psikologis dan sosiologis, juga dipengaruhi oleh sesuatu yang transenden (gaib).
Pilihlah teori yang tepat untuk dasar memecahkan masalah. Dalam penelitian, teori ibarat seperti pondasi bangunan yang menopang data, analisis, dan interpretasi sehingga tulisan berdiri kokoh.

3. Merumuskan konsep
Konsep adalah pernyataan tentang suatu fakta; gagasan untuk menjelaskan suatu fenomena. Definisikanlah konsep dengan jelas, karena konsep ibarat kerangka bangunan yang sangat menentukan tulisan berdiri tegak dan terarah pada pemecahan masalah yang telah dirumuskan.

4. Mengumpulkan data
Fakta adalah kejadian nyata atau sesuatu yang terjadi, realita adalah pernyataan atas fakta, data adalah realita yang terpilih yang dibutuhkan untuk menjawab pertanyaan penelitian. Data ibarat batu-bata, pasir, dan semen yang dipadu dan dilekatkan pada kerangka sehingga membentuk bangunan.
Tentukanlah data yang akan digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian. Dalam beberapa penelitian yang melibatkan beragam data, ada yang menentukan unit analisis, yaitu kategori data yang digunakan nantinya dalam analisis.
Setelah data ditentukan, maka selanjutnya adalah menentukan cara pengumpulannya. Ada beberapa pilihan cara pengumpulan data dalam penelitian kualitatif, yaitu observasi, wawancara, diskusi, dan studi literatur. Pilihan cara sangat tergantung pada jenis datanya.

5. Menentukan cara analisis
Analisis adalah cara mencari jawaban atas pertanyaan yang diajukan dalam penelitian dengan menghubungkan atau mencari kesalingterkaitan (interrelasi) antara data satu dengan data lain.
Dalam penelitian kualitatif, tidak ada cara baku tentang analisis ini. Yang pasti pilihan analisis sangat ditentukan oleh teori atau konsep yang dipakai.
Mirra Noor Milla, misalnya, dalam disertasinya tentang Dinamika Psikologis Perilaku Terorisme menggunakan analisis naratif fenomenologi. Dalam analisis ini pun, meski sudah jelas namanya, namun tidak ada pedoman baku dalam analisis naratif fenomenologi, setiap peneliti bebas menggunakan cara analisis sesuai dengan topik yang diteliti (Milla, 2009).

Tuesday, September 29, 2009

Pengantar Prehistori 1 Oktober 2009

Pokok Bahasan Pengantar Prehistori untuk Kamis, 1 Oktober 2009 adalah tentang periodisasi Prasejarah. Silahkan baca buku Sejarah Nasional Indonesia I tentang masa berburu dan mengumpulkan makanan hingga masa perundagian.

Selamat membaca!!

Wednesday, September 9, 2009

Bahan Kuliah Pengantar Prehistori 10 Sept

Skenario Evolusi Manusia (Keruntuan Teori Evolusi [VIII])
03/14/2003

Sumber: The Evolution Deceit, Harun Yahya
Diterjemahkan dan diterbitkan oleh: Penerbit Dzikra, Telp. (022)7276475, 7232147,
E-mail: dzikra@syaamil.co.id
www.harunyahya.com/indo
www.alislamu.com


Dalam bab-bab sebelumnya, kita melihat bahwa di alam tidak ada mekanisme yang menyebabkan makhluk hidup berevolusi. Makhluk hidup muncul bukan akibat proses evolusi, malainkan secara tiba-tiba dalam bentuk yang sempurna. Mereka diciptakan sendiri-sendiri. Oleh karena itu, jelaslah bahwa “evolusi manusia” juga merupakan sebuah kisah yang tidak pernah terjadi. Lalu, apa yang digunakan evolusionis sebagai pijakan untuk dongeng ini? Dasarnya adalah keberadaan fosil yang berlimpah sehingga evolusionis dapat membangun penafsiran imajinatif.

Sepanjang sejarah telah hidup lebih dari 6.000 spesies kera dan kebanyakan dari mereka telah punah. Kini hanya 120 spesies kera yang masih hidup di bumi. Mayoritas dari sekitar 6.000 spesies kera ini telah punah, menjadi sumber yang kaya bagi evolusionis. Evolusionis menulis skenario evolusi manusia dengan menyusun sejumlah tengkorak yang cocok dengan tujuan mereka, berurutan dari yang terkecil hingga yang terbesar, lalu menempatkan di antara mereka tengkorak beberapa ras manusia yang telah punah. Menurut skenario ini, manusia dan kera modern memiliki nenek moyang yang sama. Nenek moyang ini berevolusi sejalan dengan waktu. Sebagian mereka menjadi kera modern, sedangkan kelompok lain berevolusi melalui jalur yang berbeda, menjadi manusia masa kini. Akan tetapi, semua temuan paleontologi, anatomi, dan biologi menunjukkan bahwa pernyataan evolusi ini fiktif dan tidak sahih seperti semua pernyataan evolusi lainnya. Tidak ada bukti-bukti kuat dan nyata untuk menunjukkan kekerabatan antara manusia dan kera. Yang ada hanyalah pemalsuan, penyimpangan gambar-gambar, serta komentar-komentar menyesatkan.

Catatan fosil mengisyaratkan kepada kita bahwa sepanjang sejarah, manusia tetap manusia; dan kera tetap kera. Sebagian fosil yang dinyatakan evolusionis sebagai nenek moyang manusia berasal dari ras manusia yang hidup hingga akhir-akhir ini sekitar 10.000 tahun lalu dan kemudian menghilang. Selain itu, banyak orang masa kini memiliki penampilan dan karakteristik fisik yang sama dengan ras-ras manusia. Semua ini adalah bukti nyata bahwa manusia tidak pernah mengalami proses evolusi sepanjang sejarah.
Bukti terpenting adalah perbedaan anatomis yang besar antara kera dan manusia, dan tidak satu pun di antara perbedaan tersebut muncul melalui proses evolusi. “Bipedalitas” (kemampuan berjalan dengan dua kaki) adalah salah satu diantaranya. Seperti yang akan diuraikan lebih lanjut, bipedalitas hanya terdapat pada manusia dan merupakan salah satu sifat terpenting yang membedakan manusia dengan hewan.

Silsilah Imajiner Manusia

Darwinis menyatakan bahwa manusia modern saat ini berevolusi dari makhluk kera. Menurut mereka, selama proses evolusi yang diperkirakan berawal 4 — 5 juta tahun yang lalu, terdapat beberapa “bentuk transisi” antara manusia modern dan nenek moyangnya. Menurut skenario yang penuh rekaan ini terdapat empat “kategori” dasar:
1. Australopithecus
2. Homo habilis
3. Homo erectus
4. Homo sapiens

Evolusionis menyebut nenek moyang pertama manusia dan kera sebagai Australopithecus, yang berarti “Kera Afrika Selatan”. Australopithecus hanyalah spesies kera kuno yang telah punah, dan memiliki beragam tipe: sebagian berperawakan tegap, dan sebagian lain bertubuh kecil dan ramping.

Evolusionis menggolongkan tahapan evolusi manusia berikutnya sebagai “homo”, yang berarti manusia. Menurut pernyataan evolusionis, makhluk hidup dalam kelompok homo lebih berkembang daripada Australopithecus, dan tidak terlalu berbeda dengan manusia modern. Manusia modern di zaman kita, Homo sapiens, dikatakan terbentuk pada tahapan terakhir evolusi spesies ini.Fosil-fosil seperti “Manusia Jawa”, “Manusia Peking”, dan “Lucy”, yang senantiasa muncul di media massa, jurnal dan buku-buku kuliah evolusionis, termasuk dalam salah satu dari keempat spesies di atas. Spesies-spesies ini juga diasumsikan bercabang menjadi subspesies.

Sejumlah kandidat bentuk transisi dari masa lampau, seperti Ramapithecus, harus dikeluarkan dari silsilah imajiner evolusi manusia setelah diketahui mereka adalah kera biasa.

Dengan menyusun rantai hubungan sebagai Australopithecus > Homo habilis > Homo erectus > Homo sapiens, evolusionis menyatakan bahwa masing-masing spesies ini adalah nenek moyang spesies lainnya. Akan tetapi, temuan ahli-ahli paleontologi baru-baru ini mengungkapkan bahwa Australopithecus, Homo habilis, dan Homo erectus hidup di belahan bumi berbeda pada masa yang sama. Selain itu, suatu segmen manusia tertentu yang digolongkan sebagai Homo erectus ternyata hidup hingga zaman modern. Homo sapiens neandartalensis dan Homo sapiens sapiens (manusia modern) pernah hidup bersama di wilayah yang sama. Situasi ini jelas menunjukkan ketidakabsahan pernyataan bahwa mereka adalah nenek moyang bagi yang lain.

Pada hakikatnya, semua temuan dan penelitian ilmiah telah mengungkapkan bahwa catatan fosil tidak mengisyaratkan proses evolusi seperti yang dikemukakan evolusionis. Fosil-fosil tersebut, yang mereka katakan sebagai nenek moyang manusia, ternyata milik suatu ras manusia atau milik spesies kera.

Lalu, yang manakah fosil manusia dan yang manakah fosil kera? Mungkinkah salah satu dari keduanya bisa dianggap sebagai bentuk transisi? Untuk mendapatkan jawabannya, mari kita amati masing-masing kategori.

Australopithecus: Spesies Kera

Australopithecus, kategori pertama, berarti “kera dari selatan”. Makhluk ini di duga pertama kali muncul di Afrika sekitar 4 juta tahun lalu dan hidup hingga 1 juta tahun lalu. Evolusionis berasumsi bahwa spesies Australopithecus tertua adalah A. afarensis. Setelah itu muncul A. africanus, yang memiliki kerangka lebih ramping, dan kemudian A. robustus, yang memiliki kerangka relatif lebih besar. Sedangkan untuk A. boisei, sejumlah peneliti menganggapnya spesies yang berbeda dan sebagian lagi menggolongkannya dalam subspesies dari A. robustus.

Semua spesies Australopthecus adalah kera yang sudah punah dan menyerupai kera masa kini. Ukuran tengkorak mereka sama atau lebih kecil dari simpanse yang hidup di masa sekarang. Terdapat bagian yang menonjol pada tangan dan kaki mereka yang digunakan untuk memanjat pohon seperti simpanse zaman sekarang, dan kaki mereka memiliki kemampuan memanjat dahan. Mereka bertubuh pendek (maksimum 130 cm) dan seperti simpanse masa kini, Australopithecus jantan lebih besar dari Australopithecus betina. Sekian banyak karakteristik seperti detail pada tengkorak, kedekatan kedua mata, gigi geraham yang tajam, struktur rahang, lengan yang panjang, kaki yang pendek, merupakan bukti bahwa makhluk hidup ini tidak berbeda dengan kera zaman sekarang. Evolusionis menyatakan bahwa meskipun Australopithecus memiliki anatolmi kera, mereka berjalan dengan tegak seperti manusia dan bukan seperti kera.

Pernyataan “berjalan tegak” ini ternyata telah dipertahankan selama puluhan tahun oleh sejumlah ahli paleontologi seperti Richard Leakey dan Donald C. Johanson. Namun, banyak ilmuwan telah melakukan penelitian pada struktur kerangka Australopithecus dan membuktikan ketidakabsahan argumentasi tersebut. Penelitian menyeluruh pada spesimen Australopithecus oleh dua ahli anatomi kelas dunia dari Inggris dan Amerika Serikat, Lord Solly Zuckerman dan Prof. Charles Oxnard, menunjukkan bahwa makhluk ini tidak bipedal dan bergerak seperti kera masa kini. Setelah mempelajari fosil-fosil ini selama 15 tahun dengan segala perlengkapan yang diberikan pemerintah Inggris, Lord Zuckerman dan timnya yang beranggotakan 5 orang spesialis sampai pada kesimpulan bahwa Australopithecus hanya spesies kera biasa dan pasti tidak bipedal. Zuckerman sendiri adalah seorang evolusinis. Begitu pula Charles E. Oxnard, evolusionis yang terkenal dengan penelitiannya pada subjek tersebut, menyamakan struktur kerangka Australopithecus dengan milik orang utan modern. Akhirnya, pada tahun 1994, sebuah tim dari Universitas Liverpool Inggris melakukan riset menyeluruh untuk mencapai suatu kesimpulan yang pasti. Mereka berkesimpulan bahwa “Australopithecus adalah kuadripedal”. Singkatnya, Australopithecus tidak memiliki kekerabatan dengan manusia dan mereka hanyalah spesies kera yang telah punah.

Homo Habilis: Kera yang Dinyatakan sebagai Manusia

Kemiripan struktur kerangka dan tengkorak Australopithecus dengan simpanse, dan penolakan terhadap pernyataan bahwa makhluk ini berjalan tegak telah sangat menyulitkan ahli paleontologi pro evolusi. Karena, menurut skema evolusi rekaan mereka, Homo erectus muncul setelah Australopihecus. Karena awalan kata “homo” berarti “manusia”, Homo erectus tergolong kelas manusia berkerangka tegak. Ukuran tengkoraknya dua kali lebih besar dari Australopithecus. Peralihan langsung dari Australopithecus, yakni seekor kera mirip simpanse, ke Homo erectus yang berkerangka sama dengan manusia modern, adalah mustahil bahkan menurut teori mereka sendiri. Jadi, diperlukan “mata rantai”, yakni “bentuk transisi”. Dan, konsep Homo habilis muncul untuk memenuhi kebutuhan ini.

Pengelompokan Homo habilis diajukan pada tahun 1960-an oleh Keluarga Leakey, sebuah keluarga “pemburu fosil”. Menurut Leakey, spesies baru yang mereka kelompokkan sebagai Homo habilis memiliki kapasitas tengkorak relatif besar, kemampuan berjalan tegak dan menggunakan peralatan dari batu dan kayu. Karena itu, mungkin saja ia adalah nenek moyang manusia.

Fosil-fosil baru dari spesies yang sama ditemukan pada akhir tahun 1980-an, dan mengubah total pandangan ini. Sejumlah peneliti seperti Bernard Wood dan C. Loring Brace, berdasarkan fosil-fosil baru tersebut, mangatakan bahwa Homo habilis, yang berarti “manusia yang mampu menggunkan alat” seharusnya digolongkan sebagai Australopithecus habilis yang berarti “kera Afrika Selatan yang mampu menggunakan alat”, karena Homo habilis memiliki banyak kesamaan ciri dengan kera australopithecus. Ia memiliki lengan yang panjang, kaki yang pendek, dan struktur kerangka mirip kera seperti Australopithecus. Jari tangan dan jari kakinya cocok untuk memanjat. Struktur tulang rahangnya sangat mirip dengan rahang kera masa sekarang. Rata-rata kapasitas tengkoraknya yang 600 cc juga mengindikasi fakta bahwa Homo habilis adalah kera. Singkatnya, Homo habilis, yang diklaim sebagai spesies berbeda oleh sejumlah evolusionis, ternyata merupakan spesies kera seperti semua Australopithecus yang lain.

Penelitian yang dilakukan pada tahun-tahun berikutnya benar-benar menunjukkan bahwa Homo habilis tidak berbeda dengan Australopithecus. Fosil tengkorak dan kerangka OH26 yang ditemukan Tim White menunjukkan bahwa spesies ini memiliki kapasitas tengkorak kecil, lengan panjang serta kaki pendek yang memungkinkannya memanjat pohon, tidak berbeda dengan kera modern. Analisis terperinci yang dilakukan ahli antropologi Amerika, Holly Smith, pada tahun 1994 menunjukkan bahwa Homo habilis bukan “homo”, atau “manusia”, melainkan “kera”.

Mengenai analisis yang dilakukannya terhadap gigi-gigi Australopithecus, Homo habilis, Homo erectus, dan Homo neandertalensis, Smith mengatakan, “Dengan membatasi analisis hanya pada spesimen-spesimen yang memenuhi kriteria ini, pola perkembangan gigi Australopithecus dan Homo habilis menunjukkan bahwa mereka sekelompok dengan kera Afrika. Sedangkan Homo erectus dan Neandertal diklasifikasikan dengan manusia.”

Tahun itu juga, tiga spesialis anatoi, Fred Spoor, Bernard Wood, dan Frans Zonneveld, menarik kesimpulan serupa melalui metode yang sama sekali berbeda. Metode ini berdasarkan analisis perbandingan saluran setengah lingkaran pada telinga bagian dalam milik manusia dan kera yang berfungsi menjaga keseimbangan. Saluran ini berbeda jauh antara manusia yang berjalan tegak, dengan kera yang berjalan membungkuk. Saluran telinga bagian dalam pada semua Australopithecus serta spesimen Homo habilis yang diteliti oleh Spoor, Wood, dan Zonneveld, sama seperti pada kera modern. Saluran telinga bagian dalam pada Homo erectus sama dengan pada manusia modern. Temuan ini membuahkan dua hasil penting:



Fosil-fosil yang dikatakan sebagai Homo habilis sebenarnya tidak termasuk kelas “homo” atau manusia, tetapi kelas Australopithecus atau kera.
Baik Homo habilis maupun Australopithecus adalah makhluk hidup yang berjalan membungkuk, dan karenanya memiliki kerangka kera. Mereka tidak memiliki hubungan apa pun dengan manusia.

Homo Rudolfensis: Susunan Wajah yang Salah

Homo rudolfensis adalah nama yang diberikan kepada beberapa bagian fosil yang ditemukan pada tahun 1972. Kelompok yang diwakili fosil ini juga dinamai Homo rudolfensis karena ditemukan di dekat Sungai Rudolf di Kenya. Mayoritas ahli paleoantropologi menyetujui bahwa fosil-fosil ini tidak berasal dari spesies yang berbeda, melainkan termasuk Homo habilis.

Richard Leakey, penemu fosil tersebut, memperkenalkan tengkorak yang dinamai “KNM-ER 1470″ dan dinyatakan berusia 2,8 juta tahun itu sebagai penemuan terbesar dalam sejarah antropologi dan berpengaruh luas. Menurut Leakey, makhluk berukuran tengkorak kecil seperti Australopithecus namun berwajah manusia tersebut adalah mata rantai yang hilang antara Australopithecus dan manusia. Akan tetapi, tidak berapa lama kemudian diketahui bahwa wajah mirip manusia dari tengkorak KNM-ER 1470 yang sering tampil pada sampul depan majalah-majalah ilmiah adalah hasil penggabungan fragmen-fragmen tengkorak secara keliru–yang mungkin dilakukan dengan sengaja. Prof. Tim Bromage, pengkaji anatomi wajah manusia, menjelaskan kenyataan yang diungkapkannya dengan bantuan simulasi komputer ini pada tahun 1992, “Ketika KNM-ER 1470 pertama kali direkonstruksi, wajahnya dilekatkan pada tengkorak dalam posisi hampir vertikal, sangat menyerupai wajah datar manusia modern. Akan tetapi, penelitian baru-baru ini mengenai hubungan-hubungan anatomis menunjukkan bahwa pada masa hidupnya wajah itu seharusnya sangat menonjol, memunculkan aspek mirip kera, agak mirip dengan wajah Australopithecus.”

Mengenai kasus ini, seorang ahli paleoantropologi evolusionis, J. E. Cronin, menyatakan, “… wajahnya yang dikonstruksi kelihatan kokoh, naso-alveolar clivus yang agak datar (mengarah wajah cembung Australopithecus), lebar maksimum tengkorak yang rendah (pada bagian temporal), gigi taring yang kuat dan geraham yang besar (seperti yang ditunjukkan oleh sisa akarnya), seluruhnya merupakan sifat-sifat yang relatif primitif, yang menghubungkan spesimen tersebut dengan kelompok A. africanus.

C. Loring Brace dari Universitas Michigan berkesimpulan sama setelah ia menganalisis struktur rahang dan gigi tengkorak 1479. Menurutnya, ukuran rahang dan bagian yang ditumbuhi gigi geraham menunjukkan bahwa ER 1470 memiliki wajah dan gigi Australopithecus.

Prof. Alan Walker, ahli paleoantropologi dari Universitas John Hopkins telah melakukan banyak penelitian pada KNM-ER 1470 seperti halnya Leakey, dan bersikeras bahwa makhluk hidup ini seharusnya tidak dikelompokkan sebagai “homo” atau spesies manusia seperti Homo habilis atau Homo rudolfensis, tetapi harus dimasukkan ke dalam spesies Australopithecus. Jadi, pengelompokkan seperti Homo habilis atau Homo rudolfensis yang dikatakan sebagai bentuk transisi antara Australopithecus dengan Homo erectus sepenuhnya hanyalah rekaan. Sebagaimana dikuatkan oleh banyak peneliti masa kini, makhluk-makhluk hidup ini adalah anggota Australopithecus. Seluruh ciri anatolis memperlihatkan bahwa mereka adalah spesies kera. Setelah makhluk-makhluk ini, yang ternyata semuanya spesies kera, kemudian muncul fosil-fosil “homo” yang merupakan fosil-fosil manusia.

Homo Erectus dan Setelahnya: Manusia

Menurut skema rekaan evolusionis, evolusi internal spesies homo adalah sebagai berikut: pertama, Homo erectus, kemudian Homo sapiens purba dan manusia Neandertal, lalu Manusia Cro-Magnon, dan terakhir manusia modern. Akan tetapi, semua klasifikasi ini ternyata hanya ras-ras asli manusia purba. Perbedaan di antara mereka tidak lebih dari perbedaan antara orang inuit (Eskimo) dengan negro atau orang Pigmi dengan orang Eropa.

Mari kita terlebih dahulu mengakaji Homo erectus, yang dikatakan sebagai spesies manusia paling primitif. Kata “erect” berarti “tegak”, maka Homo erectus berarti “manusia yang berjalan tegak”. Evolusionis harus memisahkan manusia-manusia ini dari yang sebelumnya dengan menambahkan ciri “tegak”, sebab semua fosil Homo erectus bertubuh tegak, tidak seperti spesimen Australopithecus atau Homo habilis. Jadi, tidak terdapat perbedaan antara kerangka manusia modern dan Homo erectus. Alasan utama evolusionis mendefinisikan Homo erectus sebagai “primitif” adalah ukuran tengkoraknya (900-1100 cc) yang lebih kecil dari rata-rata manusia modern, dan tonjolan alisnya yang lebih tebal. Namun, banyak manusia yang hidup di dunia sekarang memiliki volume tengkorak sama dengan Homo erectus (misalnya suku Pigmi) dan ada beberapa ras yang memiliki alis menonjol (seperti suku Aborogin Australia).

Sudah menjadi fakta yang disepakasti bersama bahwa perbedaan ukuran tengkorak tidak selalu menunjukkan perbedaan kecerdasan atau kemampuan. Kecerdasan bergantung pada organisasi internal otak, dan bukan pada volumenya.

Fosil yang telah menjadikan Homo erectus terkenal di dunia adalah fosil Manusia Peking dan Manusia Jawa yang ditemukan di Asia. Akan tetapi, akhirnya diketahui bahwa dua fosil ini tidak bisa diandalkan. Manusia Peking terdiri dari beberapa bagian yang terbuat dari plester untuk menggantikan bagian asli yang hilang. Sedangkan Manusia Jawa “tersusun” dari fragmen-fragmen tengkorak, ditambah dengan tulang panggul yang ditemukan beberapa meter darinya, tanpa indikasi bahwa tulang-tulang tersebut berasal dari satu makhluk hidup yang sama. Itu sebabnya fosil Homo erectus yang ditemukan di Afrika menjadi lebih penting. (Perlu diketahui pula bahwa sejumlah fosil yang dikatakan sebagi Homo erectus, oleh sebagian evolusionis dimasukkan ke dalam kelompok kedua yang diberi nama Homo ergaster. Ada perbedaan pendapat di antara mereka tentang masalah ini. Kita menganggap semua fosil ini termasuk kelompok Homo erectus).

Spesimen Homo erectus paling terkenal dari Afrika adalah fosil Narikotome Homo erectus atau “Anak Lelaki Turkana”, yang ditemukan dekat Danau Turkana, Kenya. Dipastikan bahwa fosil tersebut milik seorang anak laki-laki berusia 12 tahun, yang mungkin akan mencapai tinggi dewasa 1,83 meter. Struktur kerangka yang tegak dari fosil tidak berbeda dengan manusia modern. Mengenai ini, seorang ahli paleoantropologi Amerika, alan Walker, meragukan kemampuan ahli patologi kebanyakan untuk membedakan kerangka fosil tersebut dengan kerangka manusia modern. Tentang tengkorak tersebut, Walker mengatakan, “Tengkorak itu tampak sangat mirip dengan Neandertal.” Seperti yang akan kita temukan pada bab berikutnya, Neandertal adalah ras manusia modern. Jadi, Homo erctus adalah ras manusia modern juga. Bahkan, evolusionis Richard Leakey menyatakan bahwa perbedaan antara Homo erectus dan manusia modern tidak lebih dari variasi ras: perbedaan bentuk tengkorak, tingkat tonjolan wajah, kekokohan dahi, dan sebaginya akan terlihat. Perbedaan-perbedaan ini mungkin seperti yang kita saksikan saat ini pada ras-ras manusia modern yang terpisah secara geografis. Variasi biologis semacam ini muncul ketika populasi-populasi saling terpisah secara geografis untuk kurun waktu yang lama.

Prof. William Laughlin dari Universitas Collection melakukan pengujian anatomi menyeluruh terhadap orang-orang Inuit dan orang-orang yang hidup di kepulauan Aleut. Ia mendapati mereka sangat mirip dengan Homo erectus. Laughlin berkesimpulan bahwa semua ras ini ternyata ras-ras yang bervariasi dari Homo sapiens (manusia modern).

Jika kita mempertimbangkan perbedaan besar antara kelompok-kelompok yang berjauhan seperti Eskimo dan Bushman, yang diketahui berasal dari satu spesies Homo sapiens, dapat disimpulkan bahwa Sinanthropus (spesimen eerectus-ALC) termasuk dalam spesies yang sama.

Di lain pihak, terdapat jurang pemisah yang lebar antara Homo erectus, suatu ras manusia, dan kera yang mendahului Homo erectus dalam skenario “evolusi manusia” (Australopithecus, Homo habilis, Homo rudolfensis). Ini berarti bahwa manusia pertama muncul secara tiba-tiba dalam catatan fosil dan tanpa sejarah evolusi apa pun. Hal ini sudah cukup jelas mengindikasikan bahwa mereka diciptakan.

Akan tetapi, pengakuan atas fakta ini akan sangat bertentangan dengan filsafat dogmatis dan ideologi evolusionis. Karenanya, mereka mencoba menggambarkan Homo erectus, ras manusia sesungguhnya, sebagai makhluk separo kera. Pada rekostruksi Homo erectus, evolusionis berkeras menggambarkan ciri-ciri kera. Sebaliknya, dengan metode penggambaran yang sama, mereka memanusiakan kera seperti Australopithecus atau Homo habilis. Dengan cara ini, mereka berupaya “mendekatkan” kera dan manusia, dan menutup celah antara dua kelompok makhluk hidup yang berbeda ini.

Neandertal

Neandertal adalah manusia yang tiba-tiba muncul 100 ribu tahun lalu di Eropa dan kemudian menghilang atau terasimilasi melalui pembauuran dengan ras-ras lain secara diam-diam namun cepat, 35 ribu tahun lalu. Perbedaan antara mereka dengan manusia modern hanyalah kerangka tubuh yang lebih kekar dan kapasitas tengkorak mereka sedikit lebih besar.

Neandertal adalah ras manusia, dan kenyataan ini sekarang diakui oleh hampir semua orang. Evolusionis telah berusaha keras menampilkan mereka sebagai “spesies primitif”, namun semua temuan menunjukkan bahwa Neandertal tidak berbeda dengan orang berperawakan “kekar” yang lewat di jalan saat ini. Seorang pakar dalam hal ini, Erik Trinkaus, ahli paleoantropologi dari Universitas New Mexico menulis, “Perbandingan anatomis terperinci antara sisa-sisa kerangka Neandertal dengan kerangka manusia modern tidak menunjukkan dengan pasti bahwa kemampuan lokomotif, manipulatif, intelektual, atau bahasa Neandertal lebih rendah dari manusia modern.”

Banyak peneliti modern menggolongkan manusia Neandertal sebagai suatu subspesies dari manusia modern dan menamakannya Homo sapiens neandertslensisi. Temuan-temuan membuktikan bahwa Neandertal mengubur mayat kerabat mereka, membuat alat musik, dan memiliki hubungan kebudayaan dengan Homo sapiens yang hidup seperiode. Tegasnya, Neandertal adalah ras manusia bertubuh “kekar” yang menghilang seiring perjalanan masa.

Homo Sapiens Kuno, Homo Heilderbergensis dan Manusia Cro-Magnon

Dalam skema evolusi rekaan, Homo sapiens kuno adalah tahapan terakhir sebelum manusia modern. Pada kenyataannya, evolusionis tidak dapat berkata banyak tentang manusia ini karena hanya ada sedikit perbedaan antara mereka dengan manusia modern. Sejumlah peneliti bahkan mengatakan bahwa representasi ras ini masih hidup hingga sekarang, dan merujuk kepada orang Aborigin di Australia sebagai contoh. Seperti Homo sapiens, orang Aborigin juga memiliki alis tebal yang menonjol, struktur rahang miring ke dalam dan kapasitas tengkorak sedikit lebih kecil. Di samping itu, sejumlah penemuan penting mengisyaratkan bahwa manusia semacam itu pernah hidup di Hongaria dan di beberapa desa di Italia hingga beberapa waktu lalu.

Kelompok yang disebut sebagai Homo heilderbergensis dalam literatur evolusionis ternyata sama dengan Homo sapiens kuno. Dua istilah berbeda ini digunakan unutk mendefinisikan ras manusia yang sama, karena perbedaan konsep di kalangan evolusionis. Semua fosil yang termasuk dalam golongan Homo heilderbergensis menunjukkan bahwa kelompok manusia yang secara anatomis sangat mirip dengan orang Eropa modern telah hidup 500 ribu dan bahkan 700 ribu tahun sebelumnya, pertama di Inggris dan kemudian Spanyol.

Diperkirakan manusia Cro-Magnon hidup 30.000 tahun lalu. Manusia ini memiliki tengkorak berbentuk kubah dan dahi yang lebar. Kapasitas tengkoraknya 1.600 cc, di atas rata-rata untuk manusia modern. Tengkoraknya memiliki tonjolan alis yang tebal dan tonjolan tulang di bagian belakang yang merupakan ciri manusia Neandertal dan Homo erectus.

Kendati Cro-Magnon dianggap suatu ras Eropa, struktur dan voleme tengkoraknya tampak lebih mirip tengkorak ras-ras yang hidup di Afrika dan daerah tropis saat ini. Berdasarkan ini, Cro-Magnon diperkirakan sebagai suatu ras Afrika kuno. Sejumlah temuan paleoantropologi telah menunjukkan bahwa ras Cro-Magnon dan Neandertal saling membaur, kemudian mengawali ras-ras dewasa ini. Sekarang sudah diakui bahwa representasi dari ras Cro-Magnon masih hidup di beberapa wilayah di benua Afrika, dan di daerah Salute dan Dordogne di Prancis. Kelompok manusia berkarakteristik sama juga hidup di Polandia dan Hongaria.

Hidup Sezaman dengan Nenek Moyang

Kajian kita sejauh ini membentuk sebah gambaran jelas: skenario “evolusi manusia” hanyalah fiksi. Agar silsilah seperti itu ada, evolusi bertahap dari kera hingga menusia seharusnya sudah terjadi dan catatan fosil dari proses ini seharusnya telah ditemukan. Akan tetapi, ada jarak pemisah sangat lebar antara kera dan manusia. Struktur kerangka, kapasitas tempurung kepala, dan kriteria lain, seperti berjalan tegak atau sangat membungkuk, membedakan manusia dari kera. (Dari hasil riset tahun 1994 tentang saluran keseimbangan pada telinga bagian tengah, Australopithecus dan Homo habilis dikelompokkan sebagai kera, sedangkan Homo erectus dikelompokkan sebagai manusia).

Satu lagi temuan penting yang membuktikan bahwa tidak mungkin ada silsilah keluarga di antara spesies yang berbeda-beda ini adalah spesies yang ditampilkan sebagai nenek moyang dan penerusnya ternyata hidup bersamaan. Jika anggapan evolusionis benar bahwa Australopithecus berubah menjadi Homo habilis dan kemudian berubah menjadi Homo erectus, maka seharusnya mereka hidup pada era yang berurutan. Akan tetapi, tidak ada urutan kronologis seperti itu.

Menurut perkiraan evolusionis, Australopithecus hidup dari 4 juta tahun lalu, sedangkan makhluk hidup yang digolongkan Homo habilis diduga hidup hingga 1,9 — 1,7 juta tahun lalu. Homo rudolfensis, yang dianggap lebih “maju” daripada Homo habilis, diketahui berusia sekitar 2,8 — 2,5 juta tahun! Dengan kata lain, Homo rudolfensis hampir 1 juta tahun lebih tua dari Homo habilis, sang “nenek moyang”. Di lain pihak, periode Homo erectus adalah sekitar 1,8 — 1,6 juta tahun lalu. Artinya, spesies Homo erectus muncul di bumi pada selang waktu sama dengan Homo habilis, yang disebut sebagai nenek moyangnya.

Alan Walker memperkuat fakta ini dengan menyatakan, “Terdapat bukti dari Afrika Timur tentang sejumlah kecil Australopithecus yang bertahan hidup sezaman dengan H. habilis, lalu dengan H. erectus.” Louis Leakey pun telah menemukan fosil-fosil Australopithecus, Homo habilis, dan Homo erectus yang berdekatan satu sama lain di wilayah celah Olduvai, lapisan Bed II. Jadi, pastilah tidak ada silsilah kekerabatan seperti itu. Ahli paleontologi dari Universitas Harvard, Stephen Jay Gould, menjelaskan jalan buntu bagi evolusi ini meskipun ia sendiri seorang evolusionis: “Apa jadinya dengan urutan yang kita susun, jika ada tiga keturunan hominid hidup bersama (A. africanus, A. robustus, dan H. habilis), dan tidak satu pun dari mereka menjadi keturunan dari yang lain? Di samping itu, tidak satu pun dari ketiganya memperlihatkan kecenderungan evolusi semasa mereka hidup di bumi.

Jika kita beralih dari Homo erectus ke Homo sapiens, kita kembali melihat bahwa tidak ada silsilah untuk dibicarakan. Ada bukti yang menunjukkan bahwa Homo erectus dan Homo sapiens kuno hidup hingga 27.000 tahun dan bahkan 10.000 tahun sebelum masa kita. Dalam rawa Kow di Australia, tengkirak Homo erectus berusia sekitar 13.000 tahun telah ditemukan. Di pulau Jawa, sebuah tengkorak Homo erectus yang ditemukan berumur sekitar 27.000 tahun.

Sejarah Rahasia Homo Sapiens

Fakta paling menarik dan penting yang menggugurkan landasan utama silsilah imajiner teori evolusi ini adalah sejarah manusia modern, yang ternyata cukup tua. Data paleoantropologi mengungkapkan bahwa orang-orang Homo sapiens yang persis sama dengan kita telah hidup pada satu juta tahun lalu.

Orang yang menemukan bukti pertama dalam hal ini adalah Louis Leakey, seorang ahli paleoantropologi evolusionis. Pada tahun 1932, di daerah Kanjera sekitar Danau Victoria di Kenya, Leakey menemukan beberapa fosil yang berasal dari zaman Pleistosin Tengah. Fosil itu ternyata tidak berbeda dengan manusia modern. Akan tetapi, zaman Pleistosin Tengah berarti satu juta tahun lalu. Karena penemuan ini membalikkan silsilah keturunan evolusi, sejumlah ahli paleoantropologi evolusionis tidak mau mengakuinya. Namun, Leakey selalu bertahan bahwa perkiraannya benar.

Ketika kontroversi ini hampir terlupakan, sebuah fosil ditemukan di Spanyol pada tahun 1995 dan dengan sangat gamblang menunjukkan bahwa sejarah Homo sapiens ternyata jauh lebih tua dari yang diperkirakan. Fosil tersebut ditemukan di sebuah gua bernama Gran Dolina di wilayah Atapuerca dan Spanyol oleh tiga orang ahli paleoantropologi Spanyol dari Universitas Madrid. Fosil tersebut adalah wajah anak laki-laki berusia 11 tahun yang sepenuhnya tampak seperti manusia modern. Padahal, fosil tersebut telah berusia 800.000 tahun sejak ia meninggal. Majalah Discover memuat rincian kisah ini pada Desember 1997. Fosil tersebut bahkan menggoyahkan keyakinan Ferreras, yang memimpin penggalian Gran Dolina. Ia berujar, “Kami mengaharapkan sesuatu yang signifikan, sesuatu yang besar, sesuatu yang bombastis?, sesuatu yang ‘primitif’. Harapan kami terhadap seorang anak berusia 800.000 tahun adalah sesuatu seperti Anak Lelaki Turkana. Dan apa yang kami temukan adalah wajah yang sama sekali modern…. Bagi saya, hal ini sangat spektakuler? sesuatu yang mengguncangkan. Menemukan sesuatu yang sama sekali tidak diharapkan seperti itu… Bukan tentang masalah menemukan fosil; menemukan fosil bisa juga mengejutkan, dan tidak jadi masalah. Namun, hal yang paling spektakuler adalah menemukan sesuatu yang Anda kira berasal dari zaman sekarang, di masa lampau. Sama halnya dengan menemukan sesuatu seperti… seperti tape recorder di Gran Dolina. Itu akan sangat mengejutkan. Kami tidak mengharapkan ada kaset dan tape recorder pada zaman Pleistosin awal. Menemukan wajah modern begitu pula. Kami sangat terkejut melihatnya.”

Fosil tersebut menegaskan fakta bahwa sejarah Homo sapiens harus ditarik ke belakang hingga 800 ribu tahun lalu. Setelah pulih dari keterkejutannya, evolusionis yang menemukan fosil tersebut memutuskan bahwa fosil ini berasal dari spesies yang berbeda, sebab menurut silsilah keturunan evolusi, tidak ada Homo sapiens yang pernah hidup 800 ribu tahun lalu. Jadi, mereka mengarang sebuah spesies baru bernama Homo antecessor dan memasukkan tengkorak Atapuerca ke dalam kelompok ini.

Sebuah pondok temuan ynag menunjukkan bahwa usia Homo sapiens bahkan lebih awal dari 800 ribu tahun. Satu di antaranya adalah penemuan Louis Leakey di awal tahun 1970-an di celah Olduvai. Di tempat ini, di lapisan Bed II, Leakey menemukan bahwa spesies Australopithecus, Homo habilis dan Homo erectus hidup pada masa yang sama. Bahkan, yang lebih menarik lagi adalah sebuah bangunan yang juga ditemukan Leakey pada lapisan Bed II. Di sini, Leakey menemukan sisa-sisa pondok batu. Yang tidak biasa dari peristiwa ini adalah bahwa kostruksi ini, yang masih digunakan di sejumlah daerah di Afrika, hanya dapat dibangun oleh Homo sapiens! Jadi, menurut temuan Leakey, Australopithecus, Homo habilis, Homo erectus, dan manusia modern tentu hidup pada masa yang sama sekitar 1,7 juta tahun lalu. Penemuan ini dengan pasti menggugurkan teori evolusi yang menyatakan bahwa manusia modern berevolusi dari spesies mirip kera seperti Australiopithecus.

Jejak Kaki Manusia Modern, Berusia 3,6 Juta Tahun!

Sejumlah penemuan lain menurut asal-usul manusia modern hingga 1,7 juta tahun lalu. Salah satu dari temuan penting ini adalah jejak-jejak kaki yang ditemukan di Laetoli, Tanzania oleh Mary Leakey pada tahun 1977. Jejak-jejak kaki ini ditemukan pada lapesan yang menurut perhitungan berusia 3,6 juta tahun. Yang lebih penting lagi, jejak-jejak kaki ini tidak berbeda dari jejak kaki menusia modern.

Jejak-jejak kaki yang ditemukan Mary Leakey kemudian dipelajari sejumlah ahli paleoantropologi seperti Don Johanson dan Tim White. Hasilnya sama. White menulis: “Tidak disangsikan lagi? jejak-jejak itu serupa dengan jejak kaki manusia modern. Jika jejak itu ditinggalkan di pasir Pantai California sekarang, dan seorang anak berusia empat tahun ditanya tentangnya, ia akan langsung menjawab bahwa seseorang telah berjalan di sana. Ia tidak akan dapat membedakannya dengan seratus jejak kaki lain di pantai, begitu pula anda.”

Setelah meneliti jejak tersebut, Louis Robbins dari Universitas North California berkomentar, “Lengkungannya agak tinggi–manusia yang lebih kecil memiliki lengkungan lebih tinggi daripada yang saya miliki–dan jempol kakinya besar dan sejajar dengan jari kaki sebelahnya…. Jari-jari kaki menekan tanah seperti jari-jari kaki manusia. Anda tidak akan mendapati ini pada hewan.”

Pengujian-pengujian morfologis tetap menunjukkan bahwa jejak-jejak kaki tersebut harus diakui berasal dari manusia, lebih jauh lagi, manusia modern (Homo sapiens). Russel Tuttle yang mempelajari ini menulis, “Jejak-jejak ini mungkin berasal dari seorang Homo sapiens kecil yang bertelanjang kaki? Dari semua ciri morfologi yang teramati, kaki individu yang membuat jejak tersebut tidak berbeda dengan kaki manusia modern.”

Penelitian yang jujur tentang jejak-jejak kaki tersbut mengungkapkan pemilik sebenarnya. Pada kenyataan, jejak-jejak kaki ini terdiri dari 20 jejak dari seorang manusia modern berusia 10 tahun yang membatu dan 27 jejak kaki dari seorang yang lebih muda. Mereka benar-benar manusia modern seperti kita.

Situasi ini menjadikan jejak kaki Laetolo sebagai topik diskusi selama bertahun-tahun. Para pakar paleoantropologi evolusionis berupaya keras memikirkan sebuah penjelasan karena sulit bagi mereka menerima kenyataan bahwa manusia modern telah berjalan di muka bumi 3,6 juta tahun lalu. Pada tahun 1990-an “penjelasan” ini mulai terbentuk. Evolusionis memutuskan bahwa jejak kaki ini tentunya ditinggalkan oleh Australopithecus, sebab menurut teori mereka, mustahil spesies homo ada 3,6 juta tahun lalu. Dalam artikelnya pada tahun 1990, Russell H. Tuttle menulis sebagai berikut, “Singkatnya, jejak kaki berusia 3,5 juta tahun di situs G Laetoli menyerupai jejak manusia modern yang biasa bertelanjang kaki. Tidak ada ciri-ciri yang menunjukkan bahwa hominid Laetolo memiliki kemampuan bipedal yang lebih rendah dari kita. Kalau saja jejak pada situs G ini tidak diketahui setua itu, kami akan langsung menyimpulkan bahwa jejak tersebut dibuat oleh anggota genus Homo…. Dalam hal ini, kita harus mengesampingkan asumsi lemah bahwa jejak laetolo telah dibuat oleh jenis Lucy, yaitu Australopithecus aferensis.

Dengan kata lain, jejak-jejak berumur 3,6 juta tahun ini tidak mungkin milik Australopithecus. Satu-satunya alasan mengapa jejak-jejak ini dianggap berasal darinya adalah karena jejak tersebut berada pada lapisan vulkanik berumur 3,6 juta tahun. Jejak tersebut dianggap milik Australopithecus dengan asumsi bahwa manusia tidak mungkin telah hidup pada zaman seawal itu. Penafsiran jejak Laetoli menunjukkan kepada kita suatu realita yang sangat penting. Evolusionis mendukung teorinya tidak dengan mempertimbangkan temuan ilmiah, tetapi justru mengabaikannya. Di sini kita mendapati sebuah teori yang dibela secara membabi buta, dan semua temuan yang bertentangan dengan teori tersebut diabaikan atau diselewengkan demi tujuan mereka. Singkatnya, teori evolusi bukan ilmu pengetahuan, tetapi dogma yang dijaga agar tetap hidup dengan mengabaikan ilmu pengetahuan.

Kebuntuan Bipedalisme bagi Evolusi

Terlepas dari catatan fosil yang kita diskusikan, lebarnya jarak perbedaan anatomis antara manusia dan kera juga menggugurkan cerita rekaan evolusi manusia. Salah satu perbedaan ini berhubungan dengan cara berjalan. Manusia berjalan tegak dengan kedua kakinya. Suatu cara bergerak yang sangat unik dan tidak didapati pada spesies-spesies lain. Sebagian hewan memang memiliki kemampuan terbatas untuk bergerak sembari berdiri dengan kedua kaki belakangnya. Hewan seperti beruang dan monyet terkadang bergerak seperti ini ketika hendak menggapai makanan, dan hanya selama beberapa saat. Normalnya, kerangka mereka condong ke depan dan mereka berjalan dengan empat kaki.

Lalu kemudian, apakah bipedalisme merupakan hasil evolusi dari cara berjalan monyet yang kuadripedal seperti yang diklaim evolusionis?

Tentu saja tidak. Penelitian telah menunjukkan bahwa evolusi bipedalisme tidak pernah dan tidak mungkin terjadi. Pertama, cara berjalan bipedal bukan suatu keuntungan. Cara monyet bergerak lebih mudah, lebih cepat dan lebih efisien daripada cara berjalan bipedal manusia. Manusia tidak dapat meloncat dari satu pohon ke pohon lain tanpa menyentuh tanah seperi simpanse, atau berlari dengan kecepatan 125 km/jam seperti cheetah. Sebaliknya, karena menusia berjalan dengan kedua kakinya, ia bergerak jauh lebih lambat di atas tanah. Untuk alasan yang sama, manusia adalah salah satu spesies yang paling tidak terlindung di alam, jika ditinjau dari gerakan dan pertahanan. Menurut logika evolusi, monyet seharusnya tidak berevolusi mengambil cara berjalan bipedal. Sebaliknya, manusialah yang seharusnya berevolusi menjadi kuadripedal.

Kebutuhan lain dari klaim evolusi adalah bahwa cara berjalan bipedal tidak sesuai dengan model “perkembangan bertahap” Darwinisme. Model ini, yang menjadi dasar evolusi, mengharuskan adanya suatu cara berjalan “gabungan” antara cara berjalan bipedal dan kuadripedal. Tetapi, penelitian komputer yang dilakukan Robin Crompton, seorang ahli paleoantropologi Inggris pada tahun 1966 menunjukkan bahwa “gabungan” ini mustahil terjadi. Crmpton mencapai kesimpulan berikut ini: “Makhluk hidup hanya dapat berjalan tegak, atau dengan keempat kakinya. Cara berjalan setengah-setengah antara bipedal dan kuadripedal sangat menguras energi. Itu sebabnya tidak mungkin ada makhluk setengah bipedal.”

Jarak yang terlalu jauh antara manusia dan kera tidak hanya meliputi bipedalisme. Masih banyak hal lain yang tidak dapat diterangkan seperti kapasitas tengkorak, kemampuan berbicara, dan sebaginya. Elaine Morgan, seorang ahli paleoatropologi evolusionis, mengakuinya: “Empat mistri yang paling membingungkan tentang manusia adalah:

Mengapa mereka berjalan dengan dua kaki?
Mengapa mereka kehilangan seluruh bulu?
Mengapa mereka mengembangkan otak yang besar?
Mengapa mereka belajar berbicara?

Jawaban ortodoks untuk pertanyaan-pertanyaan ini adalah: (1) kita belum tahu; (2) kita belum tahu; (3) kita belum tahu;(4) kita belum tahu. Daftar pertanyaan bisa bertambah panjang tanpa mengubah kemonotonan jawaban.

Evolusi: Kepercayaan yang Tidak Ilmiah

Lord Solly Zuckerman adalah salah seorang peneliti terkemuka dan terhormat di Inggris. Bertahun-tahun ia meneliti catatan fosil dan melakukan banyak penyelidikan secara terperinci. Ia dianugerahi gelar kebangsawanan “Lord” untuk kontribusinya bagi ilmu pengetahuan. Zuckerman adalah seorang evolusionis. Jadi, komentarnya mengenai evolusi tidak dapat dianggap sebagai pernyataan untuk menentang teori evolusi. Setelah bertahun-tahun meneliti fosil yang digunakan dalam skenario evolusi manusia, ia berkesimpulan bahwa silsilah seperti itu tidak ada.

Zuckerman juga menyusun sebuah “spektrum ilmu pengetahuan” yang menarik. Ia membentuk spektrum ilmu pengetahuan dari yang dianggapnya ilmiah hingga tidak ilmiah. Menurut spektrum Zuckerman, yang paling “ilmiah” tergantung pada data konkret–adalah bidang kimia dan fisika. Setelah itu biologi, kemudian diikuti ilmu-ilmu sosial. Pada ujung berlawanan, yang dianggap paling tidak “ilmiah”, terdapat “extra sensory perception (ESP)” konsep seperti telepati dan indra keenam, dan terakhir adalah “evolusi manusia”. Zuckerman menjelaskan alasannya: “Kita kemudian bergerak dari kebenaran objektif langsung ke bidang-bidang yang dianggap sebagai ilmu biologi, seperti extra sensory perception atau interprestasi sejarah fosil manusia. Dalam bidang-bidang ini, segala sesuatu mungkin terjadi bagi yang percaya, dan orang yang sangat percaya kadang-kadang mampu meyakini sekaligus beberapa hal yang saling kontradiktif.

Lalu, alasan apa yang membuat banyak ilmuwan berkeras mempertahankan dogma ini? Mengapa mereka berusaha begitu keras mempertahankan teori ini agar tetap hidup, walaupun harus mengalami berbagai konflik dan membuang bukti-bukti yang mereka temukan sendiri?

Satu-satunya jawaban adalah ketakutan mereka akan fakta yang harus mereka hadapi jika teori ini ditinggalkan. Fakta bahwa manusia diciptakan oleh Allah. Akan tetapi, mengingat praduga dan filsafat materialistis mereka, penciptaan adalah konsep yang tidak dapat diterima evolusionis.

Untuk alasan ini, mereka menipu diri sendiri serta semua orang di dunia, melalui kerja sama dengan media massa. Jika mereka tidak dapat menemukan fosil yang dibutuhkan, mereka akan “membuatnya” baik dalam bentuk gambar rekaan atau model-model khayalan, dan mencoba memberikan kesan bahwa fosil-fosil yang membuktikan teori evolusi benar-benar ada. Sebagian media massa yang menganut pandangan materialistis juga mencoba menipu masyarakat dan menanamkan kisah evolusi ke alam bawah sadar manusia. Sekeras apa pun mereka mencoba, kebenaran tetap jelas: manusia muncul bukan melalui proses evolusi, tetapi karena telah diciptakan Allah. Karena itu, manusia bertanggung jawab kepada-Nya betapa pun ia tidak ingin menerima tanggung jawab ini.

Wednesday, September 2, 2009

Silabus Pengantar Prehistori 2009

Silabus Pengantar Prehistori 2009
Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya UGM

Pengampu: Prof. Dr. Sumijati Atmosudiro; J. A. Sonjaya, M.Hum.


TUJUAN

Mahasiswa mendapat bekal pengetahuan tentang kehidupan prasejarah Indonesia dengan berbagai aspeknya serta dapat memahaminya sebagai bagian dari proses perkembangan kebudayaan.

UJIAN AKHIR SEMESTER

Ujian akhir semester dilaksanakan secara tertulis sesuai jadwal dari fakultas

KRITERIA PENILAIAN

1. Kehadiran (20%) dihitung dari kehadiran di kelas minimal 75%
2. Keaktifan dalam diskusi (20%)
3. Mid semester (30%)
4. Hasil ujian akhir semester (30%)

BACAAN
Atmosudiro, Sumijati. 1994. "Gerabah Prasejarah di Liang Bua, Melolo, dan Lewoleba: Tinjauan Teknologi dan Fungsinya". Disertasi. Yogyakarta: Fakultas Sastra UGM.
Bellwood, Peter. 2000. Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia. Jakarta: Gramedia
Hadiwijono, Harun. 2003. Religi Suku Murba di Indonesia. Jakarta: Gunung Mulia.
Heekeren, H. R. van. 1972. The Stone Age of Indonesia. VKI 61. The Hague: M. Nijhoff.
Heekeren, H.R. van. 1958. The Bronze-Iron Age of Indonesia. The Hague: M. Nijhoff.
Soegondho, Santosa. 1995. Tradisi Gerabah di Indonesia. Jakarta: Himpunan Keramik Indonesia.
Soejono, R.P. 1977. "Sistim-Sistim Penguburan pada akhir Prasejarah di Bali". Disertasi. Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
Soejono. R.P. 1992. Sejarah Nasional Indonesia jilid I. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Sonjaya, Jajang Agus. 2008. Melacak Batu Menguak Mitos: Petualangan Antarbudaya di Nias. Yogyakarta: KANISIUS.
Tanudirjo, Daud Aris. 1996. “Kajian Seni Cadas di Indonesia”. Makalah Seminar Prasejarah Indonesia I. Yogyakarta: Asosiasi Prehistorisi Indonesia.


Jadwal Perkuliahan

I (J) Kontrak belajar Pengantar dan penjelasan sistem pembelajaran
II (J) Lingkungan prasejarah Sejarah lingkungan Kepulauan Indonesia selama Kala Pliosen dan Pleistosen; hubungan lingkungan dan manusia prasejarah.
III (S) Periodisasi prasejarah Indonesia Paleolitik; Mesolitik; Neolitik; dan Perundagian
IV (J) Perkembangan manusia prasejarah Riwayat penelitian manusia purba di Indonesia dan situs-situsnya; evolusi manusia, Homo erectus di Jawa; Homo sapiens
V (J) Pemukiman prasejarah Kehidupan di dalam gua; kehidupan di situs terbuka
VI (S) Teknologi Prasejarah Teknologi batu; teknologi tanah liat; teknologi logam
VII (J) Religi manusia prasejarah Bukti-bukti awal-mula munculnya religi; Penguburan; Megalitik
VIII Ujian tengah semester
IX (J) Pola Subsistensi Berburu dan mengumpulkan makanan; pertanian sederhana dan tradidional
X(S) Seni Prasejarah Seni kriya; seni pahat; seni patung; lukisan dinding gua
XI (S) Stratifikasi sosial pada masyarakat prasejarah Pembagian pekerjaan dalam masyarakat prasejarah; Munculnya stratifikasi sosial; Bukti-bukti arkeologis tentang stratifikasi sosial
XII (J) Evolusi dan Difusi kebudayaan masa prasejarah Landasan prehistori bagi munculnya kebudayaan yang beragam (multikultur) di Indonesia
XIII (J) Pola-pola kehidupan masyarakat prasejarah abad ke-20 dan ke-21 Masyarakat Baduy; Sumba; Toraja; dan Nias, Dayak
XIV(S&J) Review dan refleksi perkuliahan

Friday, June 12, 2009

Membuat Program dan Merumuskan Proposal

Bahan Kuliah Intervensi dengan metode pelatihan/intervensi dalam bidang pedidikan
Program Magister Psikologi UII, 13 Juni 2009


1. MEMBUAT PROGRAM
Dalam upaya-upaya pengembangan masyarakat dalam bentuk intervensi terhadap sistem sosial-budaya (misal pendidikan) yang dilakukan oleh sebuah lembaga, seyogyanya mengikuti daur program, atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah Program Cycle Management (PCM). Daur program adalah tahapan-tahapan dalam pengembangan program mulai dari (1) kajian untuk identifikasi masalah dan kebutuhan; (2) perumusan rencana strategis kegiatan; (3) pengorganisasian dan pelaksanaan kegiatan; dan (4) monitoring-evaluasi. Sebagai sebuah daur, proses ini terus bergulir—tidak berhenti pada satu titik—menuju tujuan-tujuan bersama untuk menggapai hasil yang lebih baik. Berikut adalah bagan dari daur program.

1.1. Kajian: Identifikasi Masalah dan Kebutuhan
Pengenalan kebutuhan seringkali disebut pengenalan masalah, karena biasanya klien (misalnya kelompok, lembaga, atau komunitas) memiliki masalah-masalah yang menimbulkan kebutuhan, yaitu kebutuhan untuk mengatasi masalah yang mengganggu mereka. Pengkajian masalah ini disertai dengan pengenalan potensi klien, terutama bila program yang dikembangkan bertujuan untuk mengembangkan kemampuan keswadayaan mereka. Pada tahap awal ini yang biasa dikaji adalah informasi-informasi yang mengungkapkan keberadaan klien secara umum serta melakukan analisis atas keadaan klien itu. Penggalian informasi/data biasanya dilakukan melalui wawancara, focus group discussion, dan observasi.

1.2. Merumuskan Rencana Kegiatan
Perencanaan kegiatan atau action plan merupakan kelanjutan dari proses pengkajian di atas. Rencana itu perlu mencantumkan dengan jelas apa yang akan dilakukan, siapa yang akan melakukannya, dan kapan waktu pelaksanaannya. Makin kongkrit dan jelas rencana yang dihasilkan, makin besar pula kemungkinan rencana tersebut dijalankan secara sungguh-sungguh. Rencana kegiatan hendaknya disusun berdasarkan kebutuhan klien sesuai hasil kajian.
Dalam merumuskan rencana kegiatan atau action plan, sebaiknya menerapkan prinsip SMART.
 S (Specifik): Apakah tujuan dirumuskan dengan jelas, tidak abstrak, dapat dipahami, dan nyata?
 M (Measurable): Apakah ada tolok ukur bahwa tujuan sudah tercapai?
 A (Action): Tindakan apa saja yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan?
 R (Related): Apakah aktivitas yang dilakukan selaras dengan tujuan?
 T (Time Frame): Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan?

1.3. Pelaksanaan/Pengorganisasian Kegiatan
Betapapun baiknya rencana kegiatan, rencana itu baru akan bermakna jika sungguh-sungguh dilakukan. Untuk melaksanakan kegiatan, perlu diatur penjadwalan kegiatan, termasuk pembagian kerja dan tugas-tugas.

1.4. Monitoring-Evaluasi
Semua kegiatan yang kemudian dilaksanakan perlu dipantau atau diawasi secara terus-menerus untuk melihat kesesuaiannya dengan rencana yang telah disusun. Jika menyimpang, tentu harus diupayakan tindakan-tindakan perbaikan agar dapat meluruskannya kembali. Petugas lembaga program, memfasilitasi klien untuk melakukan pemantauan kegiatan mereka sendiri. Selain dimonitor, setiap kegiatan juga perlu dievaluasi atau dinilai kesesuaiaannya dengan tujuan program yang telah disepakati bersama. Evaluasi ini dilakukan secara bertahahap bersamaan dengan monitoring dan dilakukan pada akhir kegiatan/program. Proses evaluasi ditutup dengan menulis laporan.



2. MENULIS PROPOSAL

2.1. Apa Itu Proposal?
 Proposal adalah rumusan detil dari rencana kegiatan (action plan)
 Proposal merupakan pernyataan atas urgensi masalah (isunya menarik, mengikuti kebutuhan klien, dan memiliki dampak sosial yang luas).
 Proposal menggambarkan organisasi kegiatan yang tepat, sistematis dan logis.
 Proposal dapat memproyeksikan kegiatan apa saja yang akan dilakukan dan hasilnya.

2.2. Untuk Apa Proposal Itu?
Fungsi internal:
 Sebagai panduan/pedoman berkegiatan
Fungsi eksternal:
 Menggalang dukungan
 Perijinan
 Mengumpulkan dana
 Salah satu cara untuk “menjual”

2.3. Kelengkapan dan Sitematika Proposal

Latar belakang
Latar belakang berisi uraian mengenai penting dan perlu dilakukannya sebuah program/kegiatan. Alasah harus diarahkan pada sifat dan implikasi dari gejala itu sendiri, akan lebih baik lagi bila mendapat justifikasi teori atau konsep. Karenanya, dalam latar belakang perlu dikemukakan pula berbagai fakta untuk memperkuat alasan perlunya dilakukan program tersebut. Umumnya, bahan untuk menulis latar belakang adalah hasil dari kajian (need assesment).

Perumusan masalah
 Perumusan masalah adalah kunci dalam setiap program/kegiatan, tidak ada masalah maka tidak ada program.
 Masalah hendaknya dirumuskan dengan tajam, jelas, terarah, dan harus mengikuti logika berfikir yang benar.
 Perumusan masalah didasarkan atas kebutuhan klien.
 Dalam beberapa proposal kegiatan (bukan proposal penelitian), rumusan masalah biasanya dicantumkan pada bagian akhir latar belakang dan dirumskan dalam bentuk pernyataan masalah dan atau asumsi (bukan pertanyaan)

Tujuan Program (Goal)
Tujuan tentunya sangat ditentukan oleh masalah yang diajukan, dan intinya berisi tentang kontribusi program bagi klien dan masyarakat luas.

Output
Output atau keluaran adalah sesuatu yang diharapkan dari kegiatan yang dilaksanakan.

Outcome
Outcome atau hasil adalah hasil yang diharapkan dari program, rumusannya lebih nyata daripada output.

Bentuk Kegiatan
 Bagian ini menguraikan kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan sesuai tujuan, output, dan outcome program.
 Menguraikan cara atau langkah-langkah konkrit dari kegiatan: alasan pemilihan lokasi, cara melaksanakan kegiatan, jadwal, personalia dan deskripsi kerja, dan sebagainya.

Anggaran
Dalam tubuh proposal perlu disebutkan anggaran yang dibutuhkan untuk program dan sumbernya. Anggaran terperinci dilampirkan di bagian belakang proposal.

Penutup
Bagian ini berisi penutupan proposal dengan mencantumkan kegunaan proposal dan—biasanya—permohonan dukungan dari banyak pihak. Penutup diakhiri dengan tanda tangan koordinator dan penanggung jawab program.

Friday, April 17, 2009

Bahan Kuliah Komunikasi Multikultur 18 April

Identitas Kita Bukan Harga Mati

Oleh: Jajang A. Sonjaya


Pada akhir Maret 2008, saya mengunjungi keluarga angkat saya di Boronadu, Nias untuk menyelenggarakan pesta pengukuhan nama Nias yang diberikan pada saya: Ama Robi Hia. Nama itu saya peroleh setelah lebih dari dua tahun bergaul dengan warga Boronadu untuk sebuah penelitian dan penulisan buku.
Setelah ribuan kilometer saya tempuh, terbang dari Yogyakarta ke Jakarta, lalu ke Medan, dan diteruskan ke Gunungsitoli keesokan harinya, ternyata pesta yang sudah saya nanti-nantikan tidak bisa terselenggara. “Kita harus menunggu Ama Dedi dan Ama Bernard yang sedang sibuk urusan proyek dan pengangkatan sebagai pegawai negeri”, demikian kata ayah angkat saya. “Tidak mantap jika pesta itu tidak dihadiri abang-abang kamu”, lanjutnya dalam logat Nias. Saya memahami alasan itu, apalagi Ama Dedi adalah salawa (kepala desa) dan Ama Bernard adalah anak tertua ayah angkat saya. Mereka pasti akan berkecil hati jika tidak dilibatkan dalam pesta.
Waktu saya mau kembali ke Yogyakarta, ayah saya menyarankan agar uang yang sedianya akan saya belikan 3 ekor babi untuk pesta ditinggal saja padanya untuk dibelikan 10 – 12 ekor anak babi. “Jika sudah dua tahun, anak-anak babi itu kan sudah besar, jadi kita bisa memotongnya untuk pesta”, begitu alasan ayah saya. Dari perkataan ayah saya itu, saya berpikir, jangan-jangan niat saya untuk menyelenggarakan pesta tidak bisa terselenggara karena babi yang saya sediakan (3 ekor) tidak cukup. Saya mencoba menyelidikinya secara halus melalui pertanyaan-pertanyaan yang tidak memojokkan. Ternyata benar, bahwa untuk pesta pengukuhan nama saya diperlukan sedikitnya 10 ekor babi.
Di balik sedikit kekecewaan saya, ada rasa kagum pada sikap ayah saya yang nampak “jawani” (seperti orang Jawa). Betapa tidak, buat orang Nias, urusan hitung menghitung babi itu selalu dibahas terbuka dan terang-terangan. Jika kurang, pasti akan dikatakan seketika bahwa itu kurang. Bahkan dalam sebuah pesta, jika babi yang dipotong dirasa tidak cukup untuk menjamu hadirin, beberapa hadirin tidak segan-segan berteriak, “tidak punya babi kok beraninya buat pesta!!!”. Si pangkalan (yang berpesta) tentu akan sangat malu dan merasa rendah diri. Jadi, saya sungguh heran dan sekaligus kagum karena ayah saya menyatakannya secara tidak langsung dan berbelit-belit seperti orang Jawa. “Wah, ternyata bukan saya saja yang terpengaruh oleh nilai-nilai Nias, ayah angkat saya pun ternyata terpengaruh pula oleh kejawaan dan kesundaan saya”, pikir saya.
Ternyata identitas kita itu bukan harga mati. Ia bisa berubah karena dorongan dari dalam dan pengaruh dari luar.